Recent Posts

Kamis, 15 Juli 2010

BELAJAR DARI PAUL "SI GURITA"



Bismillahirrahmanirrahim

Piala Dunia baru saja berakhir dan menghasilkan juara dunia BARU, akhirnya setelah melewati pertandingan final yang menegangkan melawan Belanda, La Furia Roja akhirnya membuktikan diri bahwa mereka memang pantas menyandang gelar sebagai Juara Dunia baru berkat gol semata wayang dari Andres Iniesta, yang mana gol satu-satunya itu juga menciptakan rekor sebagai GOL TERLAMA yang tercipta di final Piala Dunia yaitu pada menit ke 116, jadi saya ucapkan selamat deh buat SpanyoL !

Banyak sekali hal yang menarik terjadi di Piala Dunia 2010 ini, salah satu yang tentunya menyita perhatian dunia adalah kemampuan Paul "Si Gurita" yang berhasil menebak dengan sempurna 7 pertandingan Tim Panser Jerman Plus Partai Final Piala Dunia yang mempertemukan antara Belanda dan SpanyoL. 

Banyak orang yang bilang kalau kemampuan Paul "Si Gurita" itu cuma kebetulan (termasuk saya), tapi ada juga yang bilang kalau sebenarnya Paul itu suka dengan warna yang terang seperti warna kuning yang ada di bendera negara Jerman dan Spanyol, kalau untuk alasan kedua ini saya kurang sepakat soalnya coba perhatikan tabel pertandingan jerman di bawah ini :


sumber gambar : hariscorner.com

Pada partai Jerman melawan Serbia, Paul "Si Gurita" meramalkan kalau tim nasional Jerman akan kalah dari Serbia, dan ternyata hal tersebut betul-betul terjadi dan coba sobat-sobat semua lihat bendera Serbia, kurang lebih warnanya hampir sama dengan bendera Belanda yang tidak dipilih Paul "Si Gurita" ketika partai final.

Terlepas dari apakah Paul "Si Gurita" betul-betul mendapatkan anugerah lebih dari Tuhan sehingga bisa meramalkan hasil pertandingan atau ini hanya sebuah kebetulan saja, saya salut dengan Paul "Si Gurita" ini karena walaupun ia mendapatkan ancaman akan "digoreng" atau "direbus" dengan orang-orang yang tidak suka dengan ramalannya ia tetap berpegang teguh pada pilihannya, sepertinya orang-orang di Negara kita perlu belajar dari Paul "Si Gurita" mengenai hal ini.


Kenapa saya lalu mengangkat membuat postingan ini "belajar dari Paul" karena saya ingin kita semua belajar dari ke-independen-an Paul "Si Gurita", sekalipun ia tinggal di Jerman ia tidak selalu mengunggulkan Jerman di setiap ramalannya, hal ini khususnya buat tim survey yang "berseliweran" di daerah saya. 

Karena saat ini kebetulan di daerah saya sedang ada pemilihan kepala daerah dan yang bikin pusing itu adalah tim survey yang datang ke daerah ini untuk melakukan survey siapa kira-kira pemenang Pemilukada, setiap tim survey yang datang untuk melakukan survey "katanya", hasilnya berbeda-beda, tim survey A yang datang katanya yang menang si B, datang lagi tim survey yang S katanya yang menang si D, sudah itu dimuat pula di media, kita ini yang hanya orang awam kan jadi pusing, sebenarnya tim survey ini lakukan survey dimana, kok bisa survey nya dilakukan di satu daerah, dengan kemungkinan orang yang disurvey sama, tapi hasilnya beda-beda.

Hingga saya mendengar sebuah komentar dari tetangga saya yang bilang, "hasil survey itu jangan dipercaya, mereka-mereka itu datang kan karena di biayai sama salah satu calon, jadi siapa saja yang biayai mereka datang itu yang dimenangkan di hasil survey", disitulah baru mulut saya terbuka lebar sambil bilang "O..o.." ternyata tim survey yang datang ini tidak betul-betul independen, siapa yang bisa "kasih makan" dia yang dimenangkan di survey, 

Kata tetangga saya lagi "itu cuma untuk pengaruhi suara di masyarakat, jadi ndak usah dipercaya, lebih baik percaya sama Paul "Si Gurita" daripada sama mereka-mereka".

Nah sobat-sobat sekalian, kira-kira kalau gambar di bawah ini Paul "Si Gurita" pilih yang mana yah :



Seandainya Paul "Si Gurita" masih muda dan mau menunggu sampai 2014, ada baiknya kita datangkan dia buat meramal kira-kira siapa yang jadi Presiden Indonesia selanjutnya, karena Paul "Si Gurita" adalah "Tim Survey" yang paling independen dari semua yang independen.

Salam Hangat Putra Sawerigading

Kamis, 08 Juli 2010

BUNGA DI TEPI JURANG


sumber gambar : warnaneka.blogspot.com


Bismillahirrahmanirrahim

Sebelum memulai postingan kali ini saya mau mengucapkan Turut Berduka Cita atas Berpulangnya ke Rahmatullah Bapak Abdullah Totong Mahmud atau yang lebih sering kita kenal dengan A.T Mahmud semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Nya, Amin.

Saya juga mengucapkan Congrats kepada tim andalan saya di Piala Dunia kali ini, siapa lagi kalau bukan La Furia Roja Tim Matador SPANYOL yang untuk kali pertama dalam sejarah Piala Dunia masuk ke Final. 

Pada postingan ini saya bukan mau membahas mengenai Piala Dunia, apalagi kalau mau membahas taktik dan strategi Spanyol dalam menaklukan Jerman, tidak sama sekali soalnya saya bukan ahlinya. Bahkan untuk bermain sepakbola pun saya tidak pernah sama sekali, kecuali waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Pada postingan kali ini saya hanya ingin sekedar mengingatkan akan sebuah fenomena yang telah banyak terjadi di Negara kita, yang katanya menganut Budaya Timur. Akan tetapi di sekitar kita, coba perhatikan tingkah laku masyarakatnya sudah jauh melenceng dari apa yang disebut "Budaya Timur", saya menulis hal ini bukan untuk bermaksud "menggurui", Tidak ! Saya cuman mau mengingatkan, sebab kemarin saya juga baru di ingatkan, yah kemarin saya di ingatkan oleh sebuah peristiwa yang terjadi di sekitar saya, yang kembali menyadarkan saya bahwa begini rupanya kondisi di masyarakat kita sekarang ini.

Peristiwa yang membuat hati ini menjadi miris, betapa tidak seorang anak -usia 17 tahun- yang ada di sekitar lingkungan rumah saya terpaksa menikah di usianya yang masih belia. Bayangkan saja di usianya yang masih belia itu, ia terpaksa sudah harus menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anaknya kelak ketika ia sudah melahirkan. 

Yang memiriskan itu adalah alasannya menikah, bukan karena faktor ekonomi seperti Ulfa -istri mudanya syeh Puji- tapi dengan alasan yang jauh lebih miris -menurut saya-, M.B.A atau kalau saya menyebutnya "Kecelakaan". Saya sama sekali tidak bermaksud untuk membongkar aib orang. Saya hanya ingin berbagi cerita sekaligus mengingatkan orang tua untuk menjaga anaknya dan para remaja untuk menjaga dirinya, terutama kaum hawa. 

Kenapa hal ini bisa terjadi saya sering memikirkan kata-kata Ustadz Lokal yang berkata kurang lebih begini : anu tidak ada gunanya itu telepisi, mappa'guru salah ji, anu salah semua na kasih liatkan ki, saya sering berpikir : "benar juga nih perkataan Ustadz" !!


Bagaimana tidak coba lihat saja tayangan yang ada di televisi sekarang ini, saya tidak tahu harus bilang apa brrrbbrrr coba lihat sinetron-sinetronnya, semuanya penuh dengan adegan percintaan ala anak remaja, hampir tidak ada lagi acara-acara untuk anak-anak (hampir). Akibatnya anak-anak jaman sekarang pun dengan "terpaksa" harus mengkonsumsi apa yang seharusnya belum saatnya diberikan. Itu belum termasuk film-filmnya, hanya segelintir orang saja yang mau membuat film yang bertemakan anak-anak, apalagi lagu-lagunya hampir semua anak-anak jaman sekarang menyanyikan lagu orang Dewasa yang temanya tentu apalagi kalau bukan c.i.n.t.a ! 

Selain karena tayangan yang dinonton yang tidak mendidik ada satu hal lagi yang sebenarnya perlu untuk di tanamkan kepada anak-anak (khususnya perempuan) hal inilah yang sebenarnya ingin saya sampaikan. 

Walaupun dari tadi tulisannya sudah melenceng ke sana ke mari, tapi biarlah namanya juga penulis amatiran, sok mau nulis padahal tidak bisa. 

Jangan biarkan diri anda di pandang rendah oleh lelaki, biarkan mereka penasaran dengan anda, makanya kata Ustads lagi "Itu Auratnya Ditutupi". Saya jadi teringat dengan perkataan teman saya Jadilah Seperti Bunga di Tepi Jurang jangan menjadi bunga di tepi jalan, kata-katanya sepertinya biasa saja, tapi kalau di cermati tentunya makna yang terkandung di dalamnya sangat besar.

Bunga di tepi jalan, semua orang yang lewat di jalan tersebut tentu dapat melihatnya apalagi kalau tidak ada yang melindunginya seperti pagar, dan tentu kalau bunganya jelek tidak akan dan yang mau mengambilnya, berbeda kalau bunga tersebut bunga yang indah sekalipun ada pagar yang melindunginya tentu orang akan memetiknya, tapi itu tidak akan lama, sebab ia memetik bunga itu tanpa ada perjuangan sama sekali sehingga kelak ketika bunga yang ia petik itu sudah tidak menarik lagi baginya tentulah akan ia buang begitu saja, toh ia juga mengambilnya tidak dengan susah payah, hanya sekedar memetik saja.

Berbeda dengan Bunga di Tepi Jurang, semua orang mungkin bisa melihatnya, tapi untuk memetiknya tidak akan sembarang orang yang berani untuk melakukannya sekalipun tidak ada sesuatupun yang melindunginya, tapi jurang tersebut yang sudah ditetapkan ada di situ dan dengan sendirinya oleh sang Maha Pencipta dengan sendirinya melindungi bunga tersebut. 

Sekalipun kelak ada yang berani untuk memetiknya pastilah orang tersebut adalah orang yang benar-benar sangat ingin memiliki bunga tersebut, walaupun dengan mengorbankan keselamatan dirinya sendiri, dan bukankah sesuatu yang kita dapatkan dengan pengorbanan yang besar akan kita pertahankan sekuat tenaga kita, begitupun dengan bunga ini akan terus dipertahankan dan dirawat oleh si pemetik dengan sekuat tenaga, mengingat pengorbanan yang telah dia lakukan untuk mendapatkan bunga tersebut.

Olehnya itu jadilah Bunga di Tepi Jurang, yang sulit untuk dipetik oleh siapa saja.

Salam Hangat Putra Sawerigading