
sumber gambar : supiyandi.wordpress.comBismillahirrahmanirrahim
Tiba-tiba saja meneteskan air mata, sebuah hal yang sangat jarang terjadi pada diri saya, bukan tanpa sebab, saya kembali terkenang masa kecil saya, yang kalau saya bilang adalah sebuah masa-masa yang sulit kami -saya dan keluarga- lalui, sebuah masa yang sering menjadi pembelajaran ketika tidak sengaja saya "terlena" oleh kehidupan saya saat ini, masa yang tidak menyenangkan memang tapi penuh arti dalam perjalanan hidup saya dan keluarga.
Lahir di dalam sebuah keluarga yang sangat sederhana, walaupun tidak begitu kekurangan -setidaknya- saya dan keluarga bisa makan 3 kali sehari, tapi tidak juga bisa memenuhi segala kebutuhan kami, saya terkadang sangat rindu akan masa-masa itu, bukan karena kekurangannya, tapi dalam kekurangan itu saya merasakan waktu itu adalah masa yang sangat penuh dengan kesederhanaan, sangat bersahaja -kalau saya bilang- dan kebersamaan kami begitu terasa, saya rindu akan itu.
Sudah lebih dari 10 tahun masa-masa itu terlewatkan, namun potongan kisah yang ada didalamnya masih begitu membekas dan saya berharap akan terus membekas dalam ingatan saya, sebuah masa yang benar-benar memberi warna tersendiri dalam perjalanan hidup saya, masa pembelajaran begitu sepertinya saya harus menyebutnya.
Saya masih merekam dengan baik, bagaimana pada waktu itu saya dan adik-adik saya sering sekali makan sepiring bertiga, sambil disuapi oleh Ibu saya, meskipun yang kami makan hanya nasi dan kerupuk "Panda" kesukaan kami, tapi tidak mengurangi kenikmatan menyantap makanan itu.
Saya juga masih ingat, bagaimana waktu itu sebungkus snack Taro adalah sebuah kemewahan bagi kami, rasanya kami bertiga -saya dan adik- akan sangat senang jika Ayah kami pulang dari kota dan membawakan kami Taro meskipun harus berbagi sebungkus bertiga.
Pernah suatu ketika ayah saya, membawakan kami sebungkus Sate -itu pertama kalinya saya makan Sate- dimana isinya ada 5 tusuk, kami sangat senang dengan rasanya dan meminta ayah untuk membelikannya lagi, saya ingat betul jawaban ayah
"doakan ayah nak, dapat rejeki, nanti saya belikan yang banyak". Jawaban yang tentu saja membuat kami senang, sambil membayangkan memakan sate tidak hanya sekedar satu tusuk saja.
Ketika keadaan sekarang membuat saya terkadang lupa diri, masa-masa ini sering muncul sendiri, membuat saya kembali merenung dan tentu saja air mata kembali menetesPaling tidak selain ayah dan Ibu saya ada dua orang lagi, yang sangat berjasa mengisi masa-masa tersebut, seorang tetangga kami Ibu Bakrie (suaminya bernama Pak Bakrie) dan juga Anto, salah seorang keluarga dari Nenek saya yang juga tinggal bersama kami.
Ibu Bakrie, seorang perempuan yang penyayang, sayang beliau tidak dikaruniai anak, adalah tetangga kami yang sangat baik, beliau memperlakukan kami seperti keluarga sendiri, menganggap saya dan adik-adik seperti anak sendiri, kami selalu bermain di rumahnya dan bahkan makanpun kami sering di rumah beliau, saya masih ingat begitu jelas bagaimana setiap pulang dari sekolah di TK, beliau selalu menjadi pendengar yang baik ketika saya mencoba untuk melantunkan lagu-lagu yang sudah saya pelajari di sekolah.
Anto, saya ingat betul adalah orang yang benar-benar berjasa di masa-masa ini, waktu itu dia ikut bekerja di sekolah tempat Ayah saya menjadi guru, dengan sepedanya dia setiap hari menempuh jarak sekitar 10 KM, tentu saja dengan beban boncengan di belakangnya dan itu adalah saya, berangkat ke sekolah diantar oleh beliau pulang pun dijemput oleh beliau, meskipun acapkali saya harus menunggu lama, karena menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Saya masih ingat bagaimana waktu itu saya sempat mengeluh pantat saya sakit ketika dibonceng olehnya, dengan segera pun dia memberi lapisan kain di sadel sepeda agar saya tidak merasa kesakitan lagi.
Saya tidak begitu tahu dimana kedua orang ini berada sekarang, Anto waktu itu pulang ke rumah orang tuanya di Bone-Bone, sementara Ibu Bakrie, saya terakhir bertemu 5 atau 6 tahun yang lalu ketika Ibu saya akan berangkat Haji, saya tidak akan pernah lupa dengan jasa-jasa keduanya, orang-orang yang pernah mengisi masa pembelajaran dalam hidup saya.
Dan tentu saja saya tidak akan lupa dengan masa ini, masa yang penuh dengan pelajaran walaupun baru terasa saat ini, ketika saya sudah tidak lagi berada di waktu dan tempat yang sama.
Salam Hangat Putra Sawerigading