Bismillahirrahmanirrahim
Selamat datang kembali di bumi Parahyangan, begitulah kira-kira jembatan Pasopati pada hari kamis yang lalu menjemput saya sambil menyunggingkan senyuman termanisnya. Yah, hari kamis tanggal 28 lalu saya kembali ke kota bunga ini, setelah menghabiskan liburan selama kurang lebih 3 minggu di kampung halaman saya tercinta Kota Palopo.
Ini artinya saya akan kembali memulai aktivitas rutin saya yang akan saya jalani sekitar 4-5 bulanan kedepan, apalagi kalau bukan kuliah di kampus tercinta STKS Bandung. Sebenarnya liburan baru akan berakhir pada tanggal 6 Februari, tapi karena baru saja terkena banjir, liburan terpaksa saya percepat biar bisa membersihkan sisa-sisa kotoran yang tersisa karena banjir kemarin. Yang katanya hanya sekitar 1 jam tetapi menyisahkan penderitaan yang sangat berat. Membuat pinggang saya agak bergoyang soalnya membersihkannya pakai acara "Goyang Patah-Patah" sambil mendorong lemari kesana kemari, yang beratnya minta ampun. Tapi sudahlah semuanya telah terjadi, toh semua pasti ada hikmahnya, ini dia foto banjirnya.
Oh iya, skefo -Sekedar Info- kemarin hari Jum'at nilai-nilai ujian saya sudah keluar semuanya, dan hasilnya ? yah walaupun tidak terlalu memuaskan tetapi cukuplah buat makan sehari tiga kali, setidaknya hasilnya lebih baik dari semester kemarin walaupun hanya selisih 0,03 "hehehe". (semester kemarin 3,42 yang sekarang hitung sendiri saja lah).
Kembali ke Pulang kampung, seperti kebiasaan mahasiswa-mahasiswa rantau lainnya yang baru pulang dari kampung. Pastinya membawa berbagai oleh-oleh, tidak terkecuali saya, saya juga membawa oleh-oleh berupa panganan yang khusus saya bawakan buat "DIRI SAYA SENDIRI".
Tidaklah, yang namanya tinggal di Asrama yah oleh-olehnya pastilah buat teman-teman yang dengan setia telah menjaga asrama selama saya menikmati liburan di kampung halaman. Oleh-oleh yang saya bawa sih tidak seberapa, soalnya saya malas membawa "tentengan-tentengan" yang banyak, jadi untuk praktisnya saya masukkan saja ke dalam koper bergabung dengan pakaian-pakaian saya. Konsekuensinya yah itu tadi oleh-oleh yang dibawapun tidak seberapa, tapi setidaknya cukuplah untuk teman minum teh seminggu kedepan. Oh iya kalau ada yang mau, silahkan berkunjung saja ke Asrama saya.
Dari semua panganan atau lebih tepatnya kue yang saya bawa ini yang paling saya suka. Namanya kue Kaktus, kenapa dinamakan kue kaktus ? soalnya bentuknya itu loh yang menyerupai pohon -atau- bunga ? Kaktus, bedanya kue ini tidak berduri jadi AMAN untuk dikonsumsi.
Rasanya keriuk-keriuk begitu, jadi paling pas kalau buat teman minum teh atau kopi, tapi saya sarankan tidak untuk bayi yang belum punya gigi ataupun buat nenek-nenek yang sudah tidak punya gigi, karena tekstur kuenya yang keras yang tentunya butuh gigi buat mengunyah.
Rasanya manis, soalnya kan ada gula merahnya jadi sangat pas juga buat teman makan nasi eh maksudnya buat minum teh. Nah ini juga tidak disarankan buat nayi dan nenek, tapi kalau mau bisa saja, tapi makannya mesti dengan cara Oreo. diputar, dijilat, lalu dicelupin berulang-ulang 3-5 kali, sampai dirasa bisa langsung ditelan.
Kue yang ketiga namanya kue Jintang, namanya kayaknya diambil dari bahan pembuatan kue ini yaitu "Jinten" yang di palopokan sehingga menjadi Jintang.
Kue ini rasanya manis dan agak keras, sehingga sama dengan 2 kue sebelumnya "TIDAK DIREKOMENDASIKAN BUAT BAYI DAN NENEK-NENEK". Bentuknya seperti biji-biji begitu jadi kalau makannya cuman 5 biji, tidak bakalan terasa di perut, kalau sudah seratus biji itu artinya anda SUDAH KELAPARAN.
Mungkin teman-teman bilang saya diskriminasi sama Bayi dan Nenek-Nenek soalnya dari tadi kuenya selalu tidak disarankan buat Nenek-Nenek, tapi sungguh tidak ada niat begitu, cuman untuk menghindari jangan sampai pencernaan Bayi atau Nenek anda rusak.
Nah, kalau kue yang keempat ini, walaupun namanya agak aneh Gambung, tapi inilah satu-satunya kue bawaan saya yang bisa dinikmati oleh semua jenis umur. Soalnya tekstur kuenya yang agak lembut sehingga tidak perlu terlalu dikunyah, rasanya juga enak, soalnya di dalamnya ada isinya yaitu berupa kelapa yang dicampur dengan gula merah yang kemudian dimasak, kalau di kampung saya namanya Cangkuli, untuk bahasa Indonesianya saya kurang tahu.
Rasanya kali ini postingannya sudah cukup, soalnya semua kuenya sudah saya beritahu kepada teman-teman. Mengenai cara membuatnya saya juga bukanlah seorang koki, jadi tidak begitu mengetahui, tapi nantilah kalau saya pulang kampung lagi saya akan berusaha untuk mencari tahu cara membuatnya, Oke.
Salam Hangat Putra Sawerigading

