Recent Posts

Rabu, 29 September 2010

KEGELISAHANKU


sumber gambar : irfanimovick.blogspot.com


Bismillahirrahmanirrahim

Entah bagaimana caranya mengawali postingan kali ini, saya agak sedikit pusing, tapi setelah mengusahakan untuk menulis yang ada dalam otak ini akhirnya postingan ini bisa jalan juga, kali ini saya hanya mau sedikit bercerita tentang beberapa kegelisahan-kegelisahan saya tentang keadaan kampus saya menuntut ilmu sekarang ini, STKS Bandung.

Sebenarnya saya sudah lama memendam rasa kegelisahan ini di dalam hati, tapi saya belum mau untuk mengungkapkannya, bukannya saya takut, TIDAK SAMA SEKALI. Tapi saya sendiri sebenarnya malu untuk membukanya, apalagi di tuliskan di blog yang notabene semua orang kemungkinan bisa membacanya, bukan hanya sekedar teman-teman ataupun orang-orang di kalangan kampus.

Dan akhirnya beberapa hari yang lalu, rasa gelisah yang sudah saya pendam dalam hati ini, mendapatkan pemantik yang membakarnya dan ingin segera di sampaikan, kalau tidak bisa-bisa saya gila memikirkannya sendiri, toh kalau sudah saya tuliskan di blog ini -walaupun tidak mendapatkan respon dari kampus- rasanya beban kegelisahan saya akan sedikit berkurang.

Masalah Pertama.
Mengenai JUMLAH MAHASISWA, dimana menurut saya jumlah mahasiswa yang di terima di kampus ini -khususnya tahun 2009 dan 2010- terlalu besar, tidak sesuai dengan ketersediaan fasilitas yang ada, baik itu sarana perkuliahan (ruang kelas) ataupun sarana tempat tinggal (asrama).

Dampak pertama akibat kurangnya dari jumlah mahasiswa yang terlalu besar ini, adalah KURANGNYA JUMLAH RUANG KELAS -jika dibandingkan dengan mahasiswa- setiap kelas bisa di isi sekitar 40 orang, yang menurut saya jumlah ini terlalu besar, dan mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi tidak efektif, belum lagi jumlah ruang kelas yang sedikit menyebabkan kejadian seperti di bawah ini :


Suasana Kuliah di STKS Bandung



Salah seorang dosen terpaksa mengadakan perkuliahan di luar kelas, hal ini bukan disengaja untuk mencari suasana baru, tetapi karena memang ruang kelas yang penuh sehingga tidak ada ruangan yang bisa digunakan untuk melakukan proses belajar mengajar.

Dampak kedua dari penerimaan mahasiswa yang tidak memperhitungkan daya tampung, berkenaan dengan tempat tinggal (asrama), asrama saat ini sudah sesak karena over kapasitas, hal ini karena kebijakan kampus yang menerima terlalu banyak mahasiswa Ikatan Dinas, yang tidak disertai dengan pengadaan asrama-asrama baru, bayangkan saja ada kamar yang kapasitasnya 6 orang terpaksa dihuni oleh 8 orang, belum lagi barang-barang lain seperti lemari pakaian, bisa dibayangkan bagaimana sesaknya.

Masalah Kedua.
Tadi mengenai jumlah ruang kelas yang tidak sepadan dengan jumlah mahasiswa, masalah berikutnya adalah fasilitas yang ada di ruang kelas, dimana sudah banyak dari media pembelajaran tersebut yang sudah rusak, baik itu karena ulah mahasiswa sendiri yang merusaknya ataupun karena kurangnya perhatian dari pihak kampus terhadap perawatan terhadap media pembelajaran tersebut.

Akibatnya proses belajar mengajar menjadi kurang maksimal, bagaimana kampus ini bisa mendidik calon Pekerja Sosial Profesional kalau dalam proses pembelajarannya saja, sudah tidak dilakukan secara maksimal. Walaupun tenaga dosen yang ada memang sudah berkualitas tapi tidak disertai dengan fasilitas yang menunjang, maka tentulah proses transfer ilmu ini tidak bisa berjalan sesuai dengan harapan bersama.

Masalah Ketiga.
Masalah berikutnya ini sebenarnya cukup sensitif, akan tetapi masalah ini yang menjadi pertanyaan bagi setiap mahasiswa di STKS Bandung, utamanya dari kalangan mahasiswa Tugas Belajar dan Ikatan Dinas, yaitu masalah pengelolaan dana.

Banyak dari rekan-rekan mahasiswa -utamanya TB dan ID- yang meminta transparansi pihak kampus mengenai pengelolaan dana ini, sebab banyak dari mahasiswa yang merasa bahwa pelayanan yang dilakukan oleh pihak kampus sangat buruk, khususnya dalam hal penyediaan makanan bagi mahasiswa TB dan ID, sehingga mereka menuntut agar pihak kampus dapat membuka bagaimana sebenarnya proses pengelolaan dana ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman antara mahasiswa dan pihak kampus.

Sebelum mengakhiri postingan ini, saya sekedar memberikan sedikit saran kepada pihak kampus, agar saya tidak dikatakan sebagai tukang protes -tapi- tukang kritik :

Untuk penerimaan mahasiswa, seharusnya pihak kampus harus mempertimbangkan antara ketersediaan fasilitas dengan jumlah mahasiswa yang akan diterima. Akan lebih baik lagi kalau mahasiswa yang diterima tersebut disaring dengan seleksi yang benar-benar ketat, sehingga kelak yang menjadi mahasiswa STKS Bandung adalah orang-orang pilihan yang benar-benar siap diasah menjadi calon Pekerja Sosial Profesional. Dan jangan sekali-kali lagi menerima mahasiswa seperti SAYA, yang kalau saya bilang merupakan Noda Sejarah STKS Bandung.

Mengenai fasilitas pembelajaran, kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan pihak kampus, sebab banyak juga fasilitas pembelajaran yang justru di rusak oleh mahasiswa sendiri. Tapi akan lebih baik lagi jika pihak kampus setiap minggunya melakukan pengecekan terhadap kelayakan dari fasilitas yang ada di ruang kelas, utamanya Proyektor yang ada.

Untuk transparansi pengelolaan dana, saya hanya bisa bilang :

"Kalau nggak ada main-main, ngapain takut.., dibuka aja kalee"


Salam Hangat Putra Sawerigading

7 Komentar:

Ayub Adiputra mengatakan...

walah...unek-unek yang kritis. saya rasa sih perlu sekali disampaikan kepada pihak kampus mas. kalau memang tidak berdaya ya tinggal kita ngomong sama dosen yang paling dekat dengan mahasiswa dan juga berpengaruh. bagusnya lagi kalau dosen itu pro mahasiswa. minimal pasti ada tanggapan...hehe...

atau mungkin link postingan ini di share di sosial media. biar banyak yang tahu. saya kira kalau banyak mahasiswa yang merasa demikian kita perlu juga melakukan protes cerdas bersama. toh tidak ada masalah karena banyak juga yang pro. tapi masalahnya kalau sampai nanti di marahin sama pihak kampus plus sangsi-sangsi ya pasti juga mikir-mikir mau protes...hehe...

semoga cepat kelar mas kegelisahannya dan selamat unek-uneknya sudah dipublikasikan.

Awaluddin Jamal mengatakan...

@ Ayub Adiputra..,

iya nih mas.. inilah susahnya jadi mahasiswa.., kita hanya bisa protes sama yang di luar, tapi giliran sama kampus sendiri, rasanya agak sulit.., Takut sih -tapi bukan dalam artian takut yang sebenarnya- resiko yang ditanggung kan cukup besar.., bisa2 rencana wisuda.., hancur berantakan.., he he

Bendera Setengah Tiang mengatakan...

satu kampus menerima begitu banyak mahasiswa baru tampa melihat daya tampung kampus tersebut ... di lain tempat ada kampus yang ngos-ngosan mencari mahasiswa baru dengan berbagai cara termasuk membenahi fasilitas perkuliahan ....

Awaluddin Jamal mengatakan...

@ Bendera Setengah Tiang..,

iya nih sob.. semestinya pihak kampus sadar dong kalau peminatnya makin banyak.. dan sudah seharusnya fasilitas yang ada dibenahi..

tapi kurang tahu juga nih lembaga., kayaknya tidak terlalu peduli.., :(

askep mengatakan...

salam blogger untuk kita semua

AeArc mengatakan...

yahh.. santai aja sob

de Archivienna mengatakan...

wah,,jdi pengen tahu,,kenapa bs blang diri sendiri sbg NODA SEJARAH yaa,,,^^

Salam kenal,,,^_^

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda jika berkenan, apapun komentar anda pahit, asam, asin, pedas apalagi kalau yang manis akan saya terima dengan lapang dada.

KALAU MENINGGALKAN KOMENTAR, HENDAKNYA MENINGGALKAN JEJAK ANDA

Jejaknya bisa URL web atau blog, ataukah alamat e-mailnya, sehingga jika ada pertanyaan bisa dibalas ke tempat yang jelas.