Recent Posts

Kamis, 28 Oktober 2010

MATI MUDA, ADA YANG MINAT ?

bagaimana idealisme ku
sumber gambar


Bismillahirrahmanirrahim

Mungkin jika melihat judul postingan anda akan mengira kalau apa yang saya tuliskan ini berhubungan dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini 28 Oktober 2010, namun apa yang akan saya tuliskan ini tidak berhubungan sama sekali dengan hal tersebut -sumpah pemuda- kecuali, sama-sama mengandung kata "Muda".

"nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua"


Anda mungkin sudah pernah mendengar atau membaca kata-kata tersebut, sebuah kalimat yang di kutip oleh Soe Hok Gie dari seorang filsuf Yunani, sebuah kata-kata yang kerap di ucapkan Gie kepada teman-temanya (menurut yang pernah saya baca).

Seandainya Gie masih hidup, rasanya sangat wajar kalau banyak orang yang bertanya kepadanya apa sebenarnya maksud dirinya menuliskan kata-kata itu, apakah itu sebuah cita-cita dirinya -"kalau iya"- berarti ia berhasil mewujudkannya -mati muda-, yah seperti yang kita tahu bahwa memang Soe Hok Gie meninggal dunia di usia yang masih tergolong Muda, tepat sehari sebelum hari jadinya yang ke 27.

Saya sendiri tidak mampu untuk menyelami apa maksud dari Soe Hok Gie mengutip hal ini, tapi kalau saya yang berada di posisi tersebut dan mengatakan hal yang demikian, maka kemungkinan landasan pemikiran tersebut seperti ini bahwa seandainya seseorang tidak pernah dilahirkan di dunia, maka ia tidak akan pernah melakukan tindakan yang membuat "nilainya" berkurang di mata Tuhan berkurang. Itu kalau dia -seseorang- tidak pernah dilahirkan, dan untuk yang selanjutnya saya rasa tidak perlu menjelaskan sebab dari penjelasan satu ini sudah bisa mewakili seluruh rangkaian kalimat tersebut.

Hanya saja, saya sendiri tidak berada pada posisi yang setuju sepenuhnya dengan "rangkaian kalimat" tersebut, orang bisa saja beralasan seperti yang saya tuliskan di atas, tapi ! apakah itu -tidak pernah dilahirkan atau mati muda- nasib yang paling beruntung ? rasanya sulit untuk meng-iya-kan nya, alasan yang paling sederhana ialah Tuhan menciptakan kita di dunia ini untuk beribadah kepada Nya, bagi umat Islam sendiri, Allah SWT telah berfirman di dalam Adz Dzariat ayat 56,

"dan tidaklah Ku ciptakan Jin dan Manusia
kecuali untuk beribadah kepada Ku"


Saya sendiri yang kebetulan di lahirkan di dunia sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya percaya bahwa Tuhan menciptakan saya di dunia untuk beribadah kepada Nya, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk mengatakan bahwa "lahir dan hidup tua" di dunia adalah nasib tersial, justru itu menjadi "ladang" bagi saya untuk menepati janji saya kepada Nya, menjadi "ladang" bagi saya untuk mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal dari dunia ini.

Kalau saya tidak pernah dilahirkan, terus dimana "ladang" saya untuk beribadah kepada Nya, dimana "ladang" saya untuk mengumpulkan bekal untuk akhirat saya, kalaupun saya dilahirkan dan kemudian mati muda, pasti saya masih akan bertanya apakah bekal yang saya bawa sudah cukup ?!

Jadi kalau menurut saya, sekali lagi "menurut saya", dilahirkan dan hidup tua merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan bagi kita untuk mempersiapkan bekal yang cukup untuk menghadap kepada Nya, jadi manfaatkanlah setiap detik waktu yang diberikan Tuhan, sebelum Tuhan mengambil apa yang telah menjadi milik Nya.

Saya sendiri belum berminat untuk Mati Muda ? dari segi agama saya masih jauh dari kata cukup dalam persiapan bekal, selain itu saya masih ingin "menikmati" dunia ini sambil berusaha untuk berkontribusi bagi negara ini. Bagaimana dengan teman-teman ada yang berminat untuk mati muda ?

Salam Hangat Putra Sawerigading

Selasa, 26 Oktober 2010

IDE TERNYATA MAHAL

ide cemerlang awaluddin jamal


Bismillahirrahmanirrahim

Suatu hari saya pernah jalan ke Ciwalk bersama salah seorang teman saya, pas sedang asyik jalan tiba-tiba teman saya itu tertarik untuk membeli sebuah kacamata yang terpajang di salah satu etalase toko yang ada di sana, akhirnya kami pun masuk untuk menanyakan harga dari kacamata tersebut, ternyata kacamata dengan gagang kayu itu harganya cukup mahal, kalau tidak salah waktu itu di bandrol dengan harga 120 ribu, harga yang lumayan mahal -menurut saya- untuk kacamata yang hanya di pakai buat bergaya itu.

Saya tiba-tiba teringat dengan kejadian yang saya alami itu, ketika semalam nonton acara di Metro TV -kalau tidak salah Economic Challenge- yang menghadirkan 10 pengusaha muda di Indonesia, dimana pada acara semalam dihadirkan 10 orang anak muda -walaupun karena ketiduran, saya hanya sempat melihat profil 3 orang saja- yang berhasil mengembangkan usahanya sesuai dengan bidangnya masing-masing, dan yang lebih membuat saya berdecak kagum, selain omzet yang lumayan besar mereka juga sudah mampu untuk membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Saya tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Rizky Kurnia Widiantoko, yang membuat usaha di bidang alas kaki, ketika itu ia hanya iseng-iseng saja menawarkan idenya di sebuah forum online, yang di tawarkan itu IDE nya bukan berupa barang. Tanpa di sangka IDE yang dia tawarkan itu di apresiasi oleh orang-orang, bahkan sudah ada yang memesan barang sekalipun barangnya belum ada, karena apa yang ia jual masih berupa IDE saja. Akhirnya ia pun mulai untuk menjalankan usaha sesuai dengan IDE yang dia miliki tadi.

Kita tentunya sering mengeluh ketika akan membeli suatu barang, lantas barang yang akan kita beli itu harganya mahal -menurut kita- sebab jika sesuai dengan hitung-hitungan kita harga untuk sebuah barang tersebut tentunya tidak akan semahal itu, tapi pernah kah kita berpikir bahwa apa yang akan kita beli itu bukan hanya barang itu saja, tapi juga IDE dari pembuat barang tersebut.

Yah.., ada IDE yang mendasari terciptanya barang tersebut tentunya, dan IDE inilah yang membuat harga dari suatu barang itu bisa mahal, sebab tidak semua orang memiliki IDE seperti itu, contohnya saja anda sebab jika anda memiliki IDE untuk membuat barang tersebut atau bagaimana bisa menghasilkan barang tersebut anda tentunya tidak perlu membelinya, cukup anda buat sendiri. Tapi toh anda juga membeli bukan lantas membuatnya, hal ini membuktikan bahwa ketika anda membeli suatu barang bukan hanya barang itu yang anda beli tapi juga IDE.

Begitupun dengan kejadian yang saya alami itu, saya baru tersadar kenapa kacamata yang menurut saya biasa-biasa saja itu di jual itu harga yang cukup mahal -menurut saya- sebab yang perlu untuk di "hargai" itu adalah IDE dari orang yang membuat kacamata tersebut, sehingga menghasilkan sebuah kacamata yang unik yang berbeda dari yang lain.

So.. IDE itu ternyata mahal, jadi kalau anda punya IDE "jual lah" IDE anda, siapa tahu anda bisa mendapatkan banyak uang dari IDE tersebut...

Sekalian mau majang award dari Gaphe dalam rangka memeriahkan Postingannya yang ke 100, Terima kasih sudah memberikan award ini kepada saya.., ini dia awardnya..,

Award dari Gaphe


Salam Hangat Putra Sawerigading

Jumat, 22 Oktober 2010

PAK HARTO, PAHLAWAN NASIONAL ?



Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa hari terakhir media-media -cetak maupun elektronik- sedang ramai memberitakan mengenai pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden RI ke II, Bapak H.M Soeharto. Selain Pak Harto ada dua orang juga yang di usulkan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional ini yaitu Mantan Presiden RI ke IV Bapak K.H Abdurrahman Wahid serta mantan Gubernur DKI Jakarta Bapak Ali Sadikin, namun yang paling menarik perhatian adalah di usungnya nama Pak Harto dalam "kandidat" penerima gelar Pahlawan Nasional tersebut.

Khusus untuk Pak Harto, banyak terjadi pro-kontra di berbagai kalangan baik di kalangan masyarakat biasa sampai di kalangan elit politik, mengenai layak tidaknya pemberian gelar ini kepada Pak Harto. Banyak yang mendukung pemberian gelar ini mengingat jasa beliau kepada bangsa ini namun tidak sedikit pula yang menolaknya dengan berbagai alasan yang cukup masuk akal, salah satunya adalah Budiman Sudjatmiko yang dulunya dikenal sebagai aktivis dan pernah di penjara ketika rezim orde baru berkuasa.

Masyarakat biasa banyak yang mendukung wacana ini -termasuk nenek saya- banyak yang berkomentar "Pak Harto sangat layak menerima penghargaan ini, waktu jaman dia jadi presiden harga-harga barang murah, pokoknya tidak banyak susahnya. Kalaupun dia melakukan kesalahan, hal itu kan manusiawi namanya juga manusia tidak ada yang sempurna"

Namun di acara AKI Pagi Tv One tadi pagi, Budiman Sudjatmiko memberikan tanggapan yang menurut saya cukup untuk menjawab pertanyaan ini, kurang lebih seperti ini "apa yang dilakukan oleh Pak Harto itu, bukan lagi kesalahan yang sifatnya manusiawi, akan tetapi sebuah kejahatan yang dilakukan oleh Tiran pada masa itu", jadi menurut Bang Budiman kejahatan yang dilakukan oleh Suharto masih bisa di maafkan tapi kemudian untuk menjadikannya Pahlawan Nasional dengan kejahatan-kejahatan yang begitu sensasional, rasanya tidak bisa diterima dengan logika.

Mungkin saja jasa Pak Harto, bisa menghapuskan kejahatan-kejahatannya selama ini, akan tetapi hal tersebut tidak lantas menjadikan Pak Harto menjadi "lebih" dibanding dengan yang lain, sebab bagaimanapun kejahatan yang dilakukannya telah tercatat dalam sejarah dunia, lihat saja dalam buku Tangan Besi - 100 Tiran Dunia, karya Monsanto Luka.

Saya sendiri tidak bisa berkomentar banyak mengenai layak tidaknya Pak Harto diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional, apalagi "sebagian besar" hidup saya lebih banyak saya jalani di masa Reformasi terhitung sejak 1998. Namun satu hal yang saya ingat pasti dari masa pemerintahan Orde Baru -sebelum tahun 1998- harga Indomie pada saat itu hanya 300 Rupiah, bandingkan dengan sekarang yang sudah mencapai harga 1200 rupiah per-bungkusnya.

Jadi pantas saja kalau banyak "orang-orang dulu" -termasuk "mungkin" nenek saya- mengatakan bahwa jaman Pak Harto lebih baik dibandingkan dengan saat ini, sebab mereka melihat kenyataan yang ada di lapangan, tanpa tahu bahwa sebenarnya kemakmuran yang di nikmatinya itu dibangun di atas pondasi ekonimi yang rapuh, yang ketika terjadi sedikit "gempa" akan mengakibatkan keseluruhannya hancur lebur tak bersisa.

Jadi bagaimana, setuju tidak kalau Suharto dijadikan sebagai Pahlawan Nasional ? untuk saya pribadi, rasanya sangat sulit untuk menerima hal ini.

Salam Hangat Putra Sawerigading

Selasa, 19 Oktober 2010

CINTA ATAU NAFSU ?



Bismillahirrahmanirrahim

"sebelum memulai postingan ada dua hal yang perlu saya jelaskan terlebih dahulu, pertama Cinta yang saya maksud disini adalah rasa suka yang sangat berlebihan, sedangkan Nafsu yang saya maksud disini adalah gairah hati yang di dasarkan pada keinginan kita untuk memiliki sesuatu karena sesuatu itu dianggap menarik bagi kita"

Bagaimana ? Pernah anda merasakan salah satu dari yang di atas ataukah merasakan kedua-duanya ? saya tentunya tidak tahu cuma anda yang bisa menjawabnya, tentunya. Tapi ketika keduanya datang bisakah anda membedakannya, kalau iya, bagaimana anda bisa membedakan keduanya ? sebab saya sendiri sampai saat ini masih bingung bagaimana membedakan keduanya, apalagi jika menyangkut yang namanya lawan jenis.

Kalau untuk sekedar "berkata-kata" bahwa saya cinta atau saya nafsu, mungkin itu bisa dibedakan, tapi ketika rasa itu datang kepada anda masihkah konsep cinta dan nafsu itu berbeda. Bagi sebagian dari kita apalagi kalau yang masih mempunyai hati yang bersih dan jiwa yang tenang -lebay- masih bisa membatasi ini cinta dan ini nafsu, tapi kalau yang manusia dengan model seperti saya, hal ini masih perlu dipertanyakan, Cinta atau Nafsu ?

Kita mungkin sering mendengarkan seseorang berkata "Saya Jatuh Cinta" tapi apakah benar yang dirasakannya itu Cinta ? bukannya Nafsu. Lalu apa saja yang menjadi indikator yang dapat di ukur yang menyatakan bahwa yang kita rasakan itu cinta, bukan Nafsu.

Misalnya begini : anda seorang laki-laki normal, memiliki perasaan kepada seorang wanita disebabkan karena wanita itu memiliki kelebihan misalnya saja wanita tersebut dari segi wajah tergolong cantik, pasti anda akan mengatakan "saya jatuh cinta sama si Anu pada pandangan pertama", tapi apakah benar itu yang dinamakan cinta ? apakah itu tidak didasari karena anda Nafsu dengan wajahnya yang cantik ?

Lalu ada bisik-bisik dari tetangga sebelah yang mengatakan : "wajar saja kalau punya perasaan sama yang cantik, namanya juga kita laki-laki normal", sampai disini saya tambah pusing lagi, lalu kalau begitu Baco cinta kepada Becce karena Becce cantik, kalau seandainya Becce tidak cantik lagi apakah si Baco masih cinta sama Becce, padahal yang mendasari Baco cinta -kalau bisa dibilang begitu- sama Becce karena Becce cantik, seandainya waktu itu wajah Becce tidak cantik, mungkin Baco tidak bakal cinta sama Becce. Tambah Pusing

Apakah saya bisa menarik kesimpulan begini :

Cinta untuk lawan jenis sebenarnya tidak ada dan Takkan pernah ada, yang ada itu cuma Nafsu ? mudah-mudahan tidak seperti ini.

Salam Hangat Putra Sawerigading

Jumat, 15 Oktober 2010

DAGO 367

Dago 367, kampus STKS Bandung


Bismillahirrahmanirrahim

Anda mungkin bingung dengan judul postingan saya kali ini, tapi bagi anda yang pernah berkunjung ke Bandung, rasanya sudah agak mengerti dengan apa yang saya maksud -walaupun tidak sepenuhnya- soalnya Dago 367 merupakan suatu kesatuan, tidak terpisahkan dan rasanya jika memahaminya hanya sepotong-sepotong -hanya Dago atau hanya 367 nya-, akan semakin membuat anda bingung. Nah dari pada bingung silahkan nikmati saja tulisan yang rada kacau ini.

Dago. siapa yang tidak tahu kawasan ini, apalagi bagi anda yang pernah berkunjung ke kota kembang ini, rasanya kunjungan ke kota Bandung tidak akan lengkap tanpa berkunjung ke kawasan ini, apalagi bagi anda yang mempunyai jiwa belanja yang tinggi, kawasan ini merupakan tempat yang tepat anda kunjungi jika berkunjung ke kota Bandung.

Bagaimana tidak, di sepanjang jalan Dago atau jalan Ir.H. Juanda ini, berjejeran outlet-outlet yang siap melayani nafsu belanja anda, mulai dari kebutuhan ujung kaki sampai ujung rambut anda, tersedia semuanya di outlet-outlet yang berjejer di sisi kiri dan kanan jalan ini. Jadi tidak mengherankan jika di hari-hari libur kawasan Dago ini sangat padat oleh kendaraan-kendaraan yang berasal dari luar kota Bandung, hampir sulit menemukan tempat parkir yang kosong jika anda berkunjung ke kawasan ini di akhir pekan.

Tak hanya outlet-outlet yang berjejeran, di kawasan Dago ini juga terdapat setidaknya beberapa hotel berbintang, salah satunya adalah Hotel Sheraton yang sering kali menjadi tempat tinggal Bapak Presiden ketika berkunjung ke kota ini, salah satu di antaranya ketika beliau melakukan deklarasi pada pilpres tahun 2009 yang lalu.

Kembali ke topik awal Dago 367, ada apa sebenarnya di Dago 367, apakah tempat ini bersejarah ? mungkin bagi sebagian orang, tempat ini sangat bersejarah, banyak orang yang menjadi "orang besar" setelah dari tempat ini, banyak orang yang merintis karirnya dari tempat ini, dan tidak sedikit yang menemukan pasangan hidupnya di tempat ini. Hebat kan ???

Dago 367, sebuah tempat yang kalau dilihat sepintas tidak ada istimewanya sama sekali -kecuali banyak orang yang berpakaian dinas- setiap hari keluar masuk dari tempat ini, mulai dari yang berpakaian dinas ala tukang sapu sampai ke orang yang berpakaian dinas ala pejabat eselon satu, semuanya bisa di temukan di tempat ini.

Bagi saya sendiri tempat ini sangat penting, setidaknya untuk saat ini. Hampir 10 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu, dan 20 hari dalam sebulan, saya menghabiskan waktu saya di tempat ini, bergulat dengan kertas-kertas ataupun slide-slide komputer yang tak jarang membuat saya sendiri bosan dan berpikir kapan semua ini akan berakhir, walaupun tidak jarang ada hal-hal yang membuat saya berharap semua ini tidak cepat berakhir atau kalau bisa jangan sampai berakhir. Tapi semua tetap saja berjalan sesuai dengan kemauan Nya, tidak bisa saya percepat sesuai keinginan saya atau saya hentikan kapanpun saya mau.

Dago 367, sebuah tempat yang sampai 1 tahun ke depan -insya Allah- akan tetap menjadi bagian penting dalam hidup saya, sebuah tempat yang memberikan banyak pelajaran dalam kehidupan saya, sebuah tempat yang telah memberi warna tersendiri dalam kehidupan saya baik itu warna yang cerah ataupun warna yang sedikit gelap. Sebuah tempat yang telah mengisi secara "permanen" salah satu ruangan di hati saya. Dago 367 tempat yang saya harapkan bisa menjadi jembatan yang mengantarkan saya menuju ke masa depan seperti yang saya harapkan.

Dago 367 itu kampus saya tercinta Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, STKS Bandung. Kampus pencetak para Pekerja Sosial Profesional.

Woalah, mau bilang kampus saja postingannya sampai panjang gini, he he maklum saja ini baru selesai UTS jadi otak nya masih miring-miring gitu, jadi maklum saja kalau postingannya juga masih miring-miring gini *emang saya pernah nulis yang gak miring ??*. Lah ini tulisan kok jadi ikut-ikut miring, woi lurus kembali dong.. sakit nih kepala bacanya...,

Oke, nah gini dong.. he he. :D

Salam Hangat Putra Sawerigading

Sabtu, 09 Oktober 2010

CINTA LAKI-LAKI BIASA

cinta laki-laki biasa


Bismillahirrahmanirrahim

Postingan kali ini saya hanya ingin berbagi sebuah cerita pendek yang saya dapatkan dari Facebook seorang teman, yang ternyata setelah saya telusuri di Mbah Google, cerpen ini merupakan cerpen yang sudah cukup lama, sekitar tahun 2005 (kalau nggak salah). Jadi mungkin sudah ada sebagian dari teman-teman yang sudah membacanya, tapi bagi yang belum mudah-mudahan cerpen yang di tulis oleh Asma Nadia ini bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi kita. :D


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk
melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua
berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah
berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul
senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani
melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.
Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata
kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan
pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang bisnis, sampai
lomba olimpiade matematika. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, dan Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang
lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang
kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak,
dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak
menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali
karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik bungsu kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka
beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan.
Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik teman dekat di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam
rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh
di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu.
Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak.
Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat
menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu
tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara
Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa
saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa
dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya
ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat
Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap
kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan
pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki
dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk
pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat
Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan
buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania
sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata
kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di
luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur,
atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak
bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang
cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat
Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang
meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki
biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per
satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan
menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti
remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan
wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania
selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana
bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama
itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton
bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli,
melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan,
juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi
pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi,
merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar
mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu.
Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang
beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang
bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak
lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang
tak pernah berubah, untuk Nania.


Saya sampai membaca cerita ini berulang-ulang, dan sedikit meneteskan air mata, semoga kita bisa mendapatkan pelajaran yang berharga dari kisah ini.

Salam Hangat Putra Sawerigading

Kamis, 07 Oktober 2010

JENDERAL KARBITAN

Jenderal Karbitan


Bismillahirrahmanirrahim

Mungkin kalau pisang karbitan kita semua sudah pernah dengar, tapi kalau istilah Jenderal Karbitan ? Itu sekarang yang terjadi di sebuah negara yang jauh disana, beribu-ribu kilometer dari negeri kita tercinta.

Kemarin saya dapat kabar dari seorang sanak keluarga saya yang tinggal di negeri itu, katanya Presiden di negaranya lagi kacau, soalnya beberapa hari yang lalu Presidennya membuat sebuah keputusan yang sangat mengejutkan. Presiden mengusulkan kepada Tau Kalasi -kalau di negeri kita namanya DPR- seorang Jenderal yang baru diangkat jadi Papan 3 (pagi hari waktu itu dia masih Papan 2) menjadi kepala Pappulung Doi -di negara kita kepala Kepolisian- yang notabene sudah papan 4.

Jadi yang membuat sanak keluarga saya berpikir itu, "wah hebat benar ini orang, pagi masih 2, siangnya sudah 3, pas malam hari sudah diusul jadi 4". Mungkin ini orang suka isap rokok Dji Sam Soe, jadi pangkatnya juga naik kayak Dji Sam Soe 234 !!! He he.


Sampai-sampai sanak keluarga saya bilang, betul-betul ini Presiden suka sekali meng-karbit, mungkin sudah tidak ada pisang yang mau dikarbit, jadi Pappulung Doi juga dia karbit. 

Masih menurut sanak keluarga saya, sebenarnya memang dari sekian banyak calon Kepala Pappulung Doi, Jenderal Karbitan inilah yang paling bersih -katanya- dibanding nama-nama lain yang berhembus, tapi cukupkah alasan itu saja yang melandasi. Padahal kata sanak keluarga saya ini, kita kan sudah tahu bagaimana kinerja dari Pappulung Doi ini tidak ada yang betul-betul bersih, dia kemudian menanyakan bagaimana kinerja Pappulung Doi di negara kita ini ? saya bilang saya tidak bisa menjawab, coba tanya Gus Dur, tapi berhubung Gus Dur sudah Almarhum coba liat disini : klik !!

Mudah-mudahan kasus yang terjadi di negara sanak keluarga saya itu, tidak terjadi di negeri kita tercinta ini, saya percaya bahwa negeri kita ini masih punya yang namanya etika pencalonan, tidak asal angkat seperti di negara tempat sanak keluarga saya berdomisili, yang mengasilkan karbitan-karbitan yang tidak betul-betul matang. Pisang saja yang hanya buah akan berbeda RASANYA antara Pisang yang betul-betul matang dengan sendirinya dibanding dengan yang matang -dipaksa matang- dengan karbit, apalagi untuk seseorang yang akan menduduki jabatan strategis, bagaimana kah ???

Salam Hangat Putra Sawerigading

Senin, 04 Oktober 2010

TIDAK JELAS

awal

sumber gambar : indonetwork.co.id

Bismillahirrahmanirrahim

Wah sudah bulan oktober yah, sayang mengawali bulan ini saya baru sempat buat postingan sekarang, itupun tidak jelas saya mau tulis apa soalnya sekarang sedang mengahadapi

Ujian Tengah Semester


Yang mungkin untuk 2 minggu ke depannya akan membuat otak saya -sedikit- berputar lebih keras dibanding hari-hari biasaya, tapi mudah-mudahan tidak sampai berputar melebihi kapasitasnya, agar saya tidak menjadi gila.

Postingan kali ini tidak ada maksud apa-apa, cuman mau mengatakan "Selamat Bulan Oktober", Oh iya ini ada sedikit lelucon lucu dari Almarhum Gus Dur yang sempat saya baca, mudah-mudahan membuat postingan yang TIDAK BERMUTU ini bisa sedikit memberikan inspirasi untuk anda.

Tidak ada maksud apa-apa dari saya, menuliskan lelucon ini. Hanya untuk sekedar membuat anda menyunggingkan -mungkin- senyum sedikit. :D

Menurut Gus Dur, hanya ada tiga Polisi di Indonesia yang Jujur :

1. Patung Polisi
2. Polisi Tidur
3. Hoegeng Imam Santoso

Salam Hangat Putra Sawerigading