Bismillahirrahmanirrahim
Selamat tinggal Olimpiade, mungkin itu kata yang harus kita ucapkan setelah menyaksikan pertandingan Indonesia Versus Turkmenistan di Pra Olimpiade 2012. Mungkin anda masih bisa menghibur diri dengan mengatakan "kan masih ada laga tandang" tapi kita harus realistis Boy, di kandang sendiri saja kita tidak bisa menang apalagi di kandang lawan, iya kan ?
Sudahlah saya tidak mau lagi membahas tentang sepakbola, apalagi sepakbola Indonesia yang semakin carut marut ini, pada postingan kali ini saya cuma mau sedikit bercerita tentang apa yang saya tulis di judul postingan ini "Dosen Pekerja Sosial", ini sebuah julukan yang diberikan oleh dosen saya kepada dirinya sendiri, tapi ini tidak berlaku untuk dia saja melainkan bagi siapa saja yang kira-kira memiliki kriteria "Dosen Pekerja Sosial" ini.
Di kampus pasti anda memiliki seorang dosen yang disenangi ataupun yang tidak disukai, saya sendiri punya banyak, tapi tidak akan saya sebutkan, bisa berbahaya dan berakibat fatal pada nilai saya tentunya ha ha ha. Semester ini sendiri saya kebetulan di ajar oleh seorang dosen yang memang menjadi idola bagi kebanyakan mahasiswa di STKS Bandung, inisialnya TK. Dosen ini kalau menurut saya dan banyak teman lain selain baik juga memiliki cara mengajar yang bagus, sehingga apa yang dijelaskan olehnya itu mudah untuk dipahami.
Dosen ini juga yang kemudian memunculkan istilah "Dosen Pekerja Sosial" ini, saya ingat betul waktu itu adalah hari pertama kami bertatap muka di kelas, seperti biasanya pertemuan pertama perkuliahan lebih banyak membahas mengenai silabus, rencana perkuliahan selama 1 semester kedepan.
Di tengah-tengah penjelasan beliau, tiba-tiba masuklah seorang teman yang waktu itu kebetulan terlambat masuk ke kelas. Beliau kemudian mempersilahkan teman itu masuk sambil berkata kurang lebih seperti ini : "sekarang saya sedang menggunakan jiwa Pekerja Sosial saya", selanjutnya dia berkata : "inilah yang membedakan dosen biasa dengan dosen pekerja sosial". Akhirnya jadilah pertemuan kali itu menemukan topik pembicaraan baru, Apa itu "Dosen Pekerja Sosial" ?
Secara sederhana Dosen Pekerja Sosial disini adalah dosen yang juga bekerja sebagai seorang pekerja sosial, itu secara sederhana. Lebih dari itu adalah bagaimana seorang dosen yang juga pekerja sosial itu mampu "mengamalkan" nilai-nilai yang ada di dalam profesi pekerjaan sosial ke dalam pekerjaannya sebagai seorang dosen, akan tetapi tidak semua nilai, melainkan nilai tertentu yang memang sesuai untuk diterapkan.
Salah satu yang paling penting untuk diterapkan menurut beliau adalah sikap on-Judgemental Attitude alias tidak menghakimi, sikap ini maksudnya adalah seorang dosen tidak bisa seenaknya untuk menentukan si A atau si B ini salah, sebelum dia menanyakan alasan kenapa hal itu bisa terjadi. Ini yang sering dilupakan oleh kebanyakan dosen, mereka selalu berpegang teguh pada prinsip Dosen tidak pernah salah, Dosen kuasa dan berbagai sikap otoriter lainnya. :D
Anehnya lagi, sikap seperti ini oleh sebagian Dosen di kampus saya justru dirasa baik dan biasa-biasa saja, padahal dengan sikap seperti ini justru membuat suasana transfer ilmu berjalan dengan kaku, akibatnya banyak dari mahasiswa yang tidak mampu menangkap apa yang disampaikan, karena sudah lebih dulu takut dengan track record dosen yang bersangkutan. termasuk saya. Padahal kan seharusnya kebiasaan-kebiasaan seperti ini bisa dikikis sedikit demi sedikit, mengingat kebiasaan ini sangat tidak membangun.
Berbagai alasan pun terkadang di kemukakan, misalnya saja kebiasaan seperti ini dipertahankan untuk menjaga martabat dosen di hadapan mahasiswanya. Benarkah ? rasanya tidak juga, kalau sekedar untuk ditakuti mungkin iya, tapi tahukah dosen itu kalau sebenarnya dengan sikapnya yang seperti itu malah akan menimbulkan cerita di belakang, lebih sakit kan ?
Oleh karena itu, dosen-dosen ku yang terhormat mungkin saat ini ada baiknya untuk berubah haluan menjadi : Dosen Pekerja Sosial.
Salam Hangat Putra Sawerigading

